Mencari Alamat di Paciran Itu Ruwet!
Alkisah, beberapa pemuda yang kebetulan sedang berada di sebuah warung kopi di kawasan Paciran dibuat bingung dengan pertanyaan seorang pendatang yang menanyakan alamat rumah seseorang. Pasalnya, si pendatang ini tidak mempunyai alamat lengkap dari orang yang dicarinya. Berbekal nama orang yang dicari dan "ancer-ancer" sebelah sininya anu, di jalan ini perempatan sekian, dan informasi ini sudah termasuk alamat paling detil. Kalau sudah begini biasanya akan terjadi saling tanya antar penduduk warung kopi: "engko na sik konok, seng isuk mau kebreset nuk langgar iku." (jangan jangan si anu yang tadi pagi terpeleset di musholla itu -terj) dan kalimat lain yang senada.
Peristiwa "sik konok" di warung kopi dan perempatan seperti ini mungkin tak akan terjadi jika si pendatang memberi alamat rumah yang lengkap. Tak hanya tahu RT/RW nya saja tetapi beserta nomor rumah dan nama jalan/gang. Karena umumnya penduduk Paciran hanya tahu RT/RW dimana dia tinggal dan tidak tahu berapa nomor rumahnya, maka itulah yang diberikan ketika ditanya dimana alamatnya oleh orang luar.
Inilah yang jadi akar dari susahnya mencari alamat di Paciran, sudah tidak ada lagi sistem penomoran rumah, terutama untuk rumah-rumah baru. Belum lagi tidak adanya informasi yang mudah di akses mengenai wilayah RT sekian RW sekian meliputi area mana saja membuat makin runyam saat ada pendatang yang menanyakan alamat dan ber-bekal nomor RT/RW nya saja.
Keadaan ini berbeda saat saya masih sekolah MI dulu, dan presiden-nya masih Pak Harto Mesem. Saat itu setiap rumah pasti punya pelat yang berisi kan informasi lengkap mulai dari nomor rumah hingga provinsi. Sehingga mudah saja untuk memberi tahu lokasi rumah kepada orang luar Paciran yang ingin berkunjung.
Masalah alamat yang amburadul seperti ini bukan hanya berakibat "sik konok" saja. Tak cuma membuat pusing pemuda warung kopi dan penghuni perempatan. Tapi berpengaruh juga pada emak-emak muda penuh gairah bisnis online (walaupun faktanya lebih banyak yang jadi konsumen). Bagaimana tidak? Bedak merek ini harus beli di lazadong, gincu merek itu yang asli cuma ada di toped yang di BL itu KW. Trus kemana kirimnya? Kalau sudah begini pilihannya cuma satu, nitip di orang terpandang dan dikenal pak pos atau dikirimkan ke alamat instansi pemerintah tempatnya bekerja karena mudah dijangkau pak pos dan jasa kurir.
Terus piye solusine? Nek riko takon aku, terus aku takon sopo??.
PS (pesen): yang merasa ada di lingkaran pemerintahan desa mbok yo nang diusulno reng petinggine rek iso nyenggol camate..
Peristiwa "sik konok" di warung kopi dan perempatan seperti ini mungkin tak akan terjadi jika si pendatang memberi alamat rumah yang lengkap. Tak hanya tahu RT/RW nya saja tetapi beserta nomor rumah dan nama jalan/gang. Karena umumnya penduduk Paciran hanya tahu RT/RW dimana dia tinggal dan tidak tahu berapa nomor rumahnya, maka itulah yang diberikan ketika ditanya dimana alamatnya oleh orang luar.
Inilah yang jadi akar dari susahnya mencari alamat di Paciran, sudah tidak ada lagi sistem penomoran rumah, terutama untuk rumah-rumah baru. Belum lagi tidak adanya informasi yang mudah di akses mengenai wilayah RT sekian RW sekian meliputi area mana saja membuat makin runyam saat ada pendatang yang menanyakan alamat dan ber-bekal nomor RT/RW nya saja.
Keadaan ini berbeda saat saya masih sekolah MI dulu, dan presiden-nya masih Pak Harto Mesem. Saat itu setiap rumah pasti punya pelat yang berisi kan informasi lengkap mulai dari nomor rumah hingga provinsi. Sehingga mudah saja untuk memberi tahu lokasi rumah kepada orang luar Paciran yang ingin berkunjung.
Masalah alamat yang amburadul seperti ini bukan hanya berakibat "sik konok" saja. Tak cuma membuat pusing pemuda warung kopi dan penghuni perempatan. Tapi berpengaruh juga pada emak-emak muda penuh gairah bisnis online (walaupun faktanya lebih banyak yang jadi konsumen). Bagaimana tidak? Bedak merek ini harus beli di lazadong, gincu merek itu yang asli cuma ada di toped yang di BL itu KW. Trus kemana kirimnya? Kalau sudah begini pilihannya cuma satu, nitip di orang terpandang dan dikenal pak pos atau dikirimkan ke alamat instansi pemerintah tempatnya bekerja karena mudah dijangkau pak pos dan jasa kurir.
Terus piye solusine? Nek riko takon aku, terus aku takon sopo??.
PS (pesen): yang merasa ada di lingkaran pemerintahan desa mbok yo nang diusulno reng petinggine rek iso nyenggol camate..