Pungli Pengurusan KTP di Kecamatan Paciran
Pungli masih menjadi salah satu alasan nomor urut satu dalam pengurusan dokumen di tingkat kecamatan. Inilah salah satu alasan sampai saat ini saya malas mengurus dokumen penting kependudukan, dalam hal ini KTP.
Namun mengingat betapa "penting"-nya dokumen yang satu ini, apalagi pendataan e-ktp akan berakhir dalam waktu dekat. Semakin penting saja urusan identas ini. Jadi, gelem gak gelem yo kudu gelem ngurus.
Di Balai Desa Paciran.
Pagi ini, dengan semangat empat lima saya langsung menuju Balai Desa Paciran untuk meminta formulir pengurusan KTP. Sampai di sana diberikan formulir F-1.21 (fotokopian, habisjah yang asli?). Pelayanan ramah dan memuaskan sampai saat terakhir. Dan seperti saya duga sebelumnya, ada bisikan "admistrasine". Eneg, pengen muntah.
Kalau sampeyan tanya berapa yang diminta, sampeyan pasti sudah tahu "nominal umum" yang diminta sejak jaman Kades Busroh: Rp. 5000,-. Tapi tadi pagi saya dimintai Rp. 10.000,-.
Saya pun mlongop sambil tanya "Kok, sepuluh ribu? Boleh minta kuitansi?" Namun ditimpali dengan ujaran dari salah satu staf lain, "Lima ngewu mas..." dan petugas di depan saya berujar "sepuluh ribu minta kuitansi" dan "minta kuitansi ape disetorno sopo..". Ya sudahlah saya kasih dulu limangewu repes, yang penting bisa lanjut ke Kantor Kecamatan Paciran.
Di Kecamatan Paciran.
Sampai di Kantor Kecamatan Paciran, saya langsung menuju ke bagian Kependudukan yang berada di lokal paling selatan.
Masuk dengan salam dan langsung tu de poin meminta pengantar pengurusan e-KTP. Biasanya, di ruang ini akan sekaligus dimintai juag biaya "admistrasi" sesuai pengalaman yang dulu-dulu. Ternyata sangkaan saya tidak terbukti. Alhamdulillah... Ternyata sudah lebih baik..
Eiiit.... Tak berlangsung lama, rasa syukur saya seperti dilintir terus di uwel-uwel di lebokno tempat sampah. Guellloooo... Bukan nggelani syukurku, tapi nggelani guoblok-ku yang menyangka "ternyata sudah lebih baik" itu.
Dari Ruang Kependudukan, saya di arahkan ke sekertariat untuk meminta tanda tangan dan stempel camat. Ruang Sejertariat berada di utara Ruang Kependudukan di batasi Musholla, dan merupakan bangunan terpisah.
Masuk ke ruangan denga sopan dan salam, kemudian di persilahkan untuk menunggu sebentar. Singkat, saya setorkan lembaran yang saya dapat dari ruanh sebelumnya. Setelah beberapa waktu lembaran dikembalikan denga keadaan sudah terstempel dan tertandatangani. Mek ngono? Oraaaa....
Inilah yang membuat saya kecewa naudzubillah, ternyata isek ono bisikan "admistrasine sepuluh ribu". Jleb, jlrb gluontang pyar... Ketika saya kuitansi malah diketawai dengan ujaran "lima ribu minta kuitansi mas, mas..". Lho, tadi minta 10.000,-? Saya tetep ngeyel njaluk kuitansi, sambil tanya itu administrasi untuk apa, untuk siapa? Katanya untuk "sini", saya cecar "sini siapa, untuk ibu atau..." belum selesai sudah di potong "untuk kecamatan" saya kejar lagi "lha iya ibuk, saya minta kuitansi, nanti saya kasih yang lima ribu itu". Tahu apa jawabannya? Saya cuma geleng-geleng kepala sambil ngelus dodo setelah mendengar "nek sampeyan gak gelem mbyar yo gak popo mas.."
Epilog
Jawaban yang simpel, imut, lucu, menggemaskan sekali. Dengan itu semakin yakin saya bahwa itu Di Sini Ada Pungli! Jika itu bukan pungli, seharusnya apapun alasannya saya tidak akan di biarkan nggeloyor metu tanpa ditarik "administrasi" yang limangewu itu. Gak ngono ta gok?
Saya punya rekaman dialog di Kecamatan Paciran, sedangkan di Desa tidak ada rekaman karena prasangka baik terhadap jajaran perangkat desa yang baru.
Namun mengingat betapa "penting"-nya dokumen yang satu ini, apalagi pendataan e-ktp akan berakhir dalam waktu dekat. Semakin penting saja urusan identas ini. Jadi, gelem gak gelem yo kudu gelem ngurus.
Di Balai Desa Paciran.
Pagi ini, dengan semangat empat lima saya langsung menuju Balai Desa Paciran untuk meminta formulir pengurusan KTP. Sampai di sana diberikan formulir F-1.21 (fotokopian, habisjah yang asli?). Pelayanan ramah dan memuaskan sampai saat terakhir. Dan seperti saya duga sebelumnya, ada bisikan "admistrasine". Eneg, pengen muntah.
Kalau sampeyan tanya berapa yang diminta, sampeyan pasti sudah tahu "nominal umum" yang diminta sejak jaman Kades Busroh: Rp. 5000,-. Tapi tadi pagi saya dimintai Rp. 10.000,-.
Saya pun mlongop sambil tanya "Kok, sepuluh ribu? Boleh minta kuitansi?" Namun ditimpali dengan ujaran dari salah satu staf lain, "Lima ngewu mas..." dan petugas di depan saya berujar "sepuluh ribu minta kuitansi" dan "minta kuitansi ape disetorno sopo..". Ya sudahlah saya kasih dulu limangewu repes, yang penting bisa lanjut ke Kantor Kecamatan Paciran.
Di Kecamatan Paciran.
Sampai di Kantor Kecamatan Paciran, saya langsung menuju ke bagian Kependudukan yang berada di lokal paling selatan.
Masuk dengan salam dan langsung tu de poin meminta pengantar pengurusan e-KTP. Biasanya, di ruang ini akan sekaligus dimintai juag biaya "admistrasi" sesuai pengalaman yang dulu-dulu. Ternyata sangkaan saya tidak terbukti. Alhamdulillah... Ternyata sudah lebih baik..
Eiiit.... Tak berlangsung lama, rasa syukur saya seperti dilintir terus di uwel-uwel di lebokno tempat sampah. Guellloooo... Bukan nggelani syukurku, tapi nggelani guoblok-ku yang menyangka "ternyata sudah lebih baik" itu.
Dari Ruang Kependudukan, saya di arahkan ke sekertariat untuk meminta tanda tangan dan stempel camat. Ruang Sejertariat berada di utara Ruang Kependudukan di batasi Musholla, dan merupakan bangunan terpisah.
Masuk ke ruangan denga sopan dan salam, kemudian di persilahkan untuk menunggu sebentar. Singkat, saya setorkan lembaran yang saya dapat dari ruanh sebelumnya. Setelah beberapa waktu lembaran dikembalikan denga keadaan sudah terstempel dan tertandatangani. Mek ngono? Oraaaa....
Inilah yang membuat saya kecewa naudzubillah, ternyata isek ono bisikan "admistrasine sepuluh ribu". Jleb, jlrb gluontang pyar... Ketika saya kuitansi malah diketawai dengan ujaran "lima ribu minta kuitansi mas, mas..". Lho, tadi minta 10.000,-? Saya tetep ngeyel njaluk kuitansi, sambil tanya itu administrasi untuk apa, untuk siapa? Katanya untuk "sini", saya cecar "sini siapa, untuk ibu atau..." belum selesai sudah di potong "untuk kecamatan" saya kejar lagi "lha iya ibuk, saya minta kuitansi, nanti saya kasih yang lima ribu itu". Tahu apa jawabannya? Saya cuma geleng-geleng kepala sambil ngelus dodo setelah mendengar "nek sampeyan gak gelem mbyar yo gak popo mas.."
Epilog
Jawaban yang simpel, imut, lucu, menggemaskan sekali. Dengan itu semakin yakin saya bahwa itu Di Sini Ada Pungli! Jika itu bukan pungli, seharusnya apapun alasannya saya tidak akan di biarkan nggeloyor metu tanpa ditarik "administrasi" yang limangewu itu. Gak ngono ta gok?
Saya punya rekaman dialog di Kecamatan Paciran, sedangkan di Desa tidak ada rekaman karena prasangka baik terhadap jajaran perangkat desa yang baru.